Selamat Datang di Blog www.hawadanadam.blogspot.com,blog dunia wanita jalan menuju pintu surga

Senin, 17 Januari 2011

MUNGKIN INI HAKIKAT IKHLAS

Salah satu tabir yang menutupi hati kita untuk mampu merasakan getaran cahaya Petunjuk Tuhan adalah ketidakikhlasan. Sebaliknya, bila kita mampu untuk ikhlas berarti terbukalah salah satu hijab dan kemudian insyaallah kita mampu untuk merasakan getaran petunjuk cahaya Keikhlasan-Nya juga. Keuntungan ikhlas yang lain sebagai hadiah dari-Nya jelas banyak. Salah satunya adalah mampu meraba iradat-Nya.
Kisahnya sederhana. Hari Senin kemarin, tanpa diduga sebelumnya tiba-tiba mendadak kami diperintahkan untuk ke Bandung, Jawa Barat untuk sebuah tugas. Sebenarnya kami mampu untuk menolak tugas tersebut karena sifatnya bukan wajib melainkan pilihan. Entah karena apa, kami pun berniat belajar ikhlas saja ditugaskan tanpa embel-embel apapun. Ikhlas ya ikhlas, nggak punya harapan apa-apa.
Menurut penilaian para teman, kami tergolong wong manutan yang tidak punya keberanian untuk menolak permintaan orang lain. Padahal bila menuruti permintaan tugas pergi ke Bandung tersebut, pasti akan kelelahan apalagi tanpa imbalan. Padahal, di hati ini berkata: apa salahnya untuk melaksanakan sesuatu yang bisa menjadi ganjal agar orang lain tidak kecapekan? Biarlah kami saja yang bermandikan keringat daripada orang lain.
Ingat prinsip Rabiah Adawiyah, sufi agung perempuan yang tersirat dalam doanya: “Ya Allah, jadikan tubuhku besar hingga memenuhi neraka agar para saudaraku sesama manusia tidak ada yang masuk neraka”. Ini adalah makna keikhlasan untuk berkorban agar sesamanya tidak celaka. Biarlah diri menjadi bemper agar orang lain selamat…. Apakah pikiran kami seperti Rabiah? Nggak tahu, semoga saja begitu. Hehehe…
Dalam manajemen modern, pikiran seperti ini pasti dianggap tidak efisien dan efektif. Apalagi dilihat dari sisi ekonomis: ini pikirannya wong mlarat dan bila dipertahankan mungkin sampai kapanpun tidak bisa kaya karena tidak menguntungkan. Mungkin saja..
Singkatnya, kami pun akhirnya tetap memutuskan berangkat dan tiba di terminal Bungurasih pukul 4 sore. Sebelumnya, kami disarankan untuk naik bis “Pahala Kencana” karena konon lebih cepat, lebih nyaman dan lebih “selamat.” Meskipun tiketnya lebih mahal dibanding yang lain.
Di depan petugas penjualan tiket, sayang kursi bis sudah penuh penumpang dan hanya menyisakan satu kursi cadangan di pinggir sopir. Oleh petugas penjualan tiket, kami disarankan untuk menunggu bis “Pahala Kencana” yang lain.
Belum sempat memutuskan apapun, dari tempat kami berdiri tampak bis “Bandung Express” yang masih kosong melompong menunggu penumpang. Bis ini konon tidak begitu disuka karena berkelas rakyat bawah sehingga pasti terasa kurang nyaman bagi mereka yang alergi dengan hal-hal yang berbau rakyat.
Ide pun muncul untuk naik bis berwarna putih tersebut. Kami membeli tiket dan masuk ke kendaraan itu. Itung-itung belajar ikhlas untuk naik bis yang kurang bagus. Meskipun resikonya jelas; kurang nyaman, kurang bersih, dan kurang-kurang yang lain…
Hebatnya, bis ini murah meriah harga tiketnya dibanding bis elite satunya tadi. Jumlah penumpang “Bandung Express” saat itu hanya ada delapan. Kursi lain kosong melompong. Dengan delapan penumpang wong cilik tersebut, bis berangkat meninggalkan Surabaya. Sementara bis “Pahala Kencana” sudah terlebih dulu berangkat dengan jeda waktu sekitar satu jam dibanding bis butut yang akhirnya kami tumpangi.
Singkatnya, sore berganti pagi. Bis memasuki kawasan Sumedang…. Eh, di pinggir jalan kami lihat bis “Pahala Kencana” berhenti. Kelihatan kru bis sedang memperbaiki mesin dan para penumpangnya ada yang keluar bis duduk di pinggir jalan, ada pula yang masih berada di dalam bis menunggu. Ya, bis elite itu rusak. Sementara bis butut yang kami naiki malah mulus meluncur Surabaya-Bandung dengan selamat dan tidak kurang apapun. Lebih cepat lagi hehe…Alhamdulillah.
Perjalanan bis menuju Bandung adalah analogi yang baik bagaimana sesungguhnya menuju tujuan hidup. Marilah kita renungkan, kira-kira apa sih tingkat puncak kenikmatan dari hidup? Pelan menjalani proses di dalam hidup seperti bis “Bandung Express” meskipun onderdil dan bentuk bis (Ibadah dan niat compang camping) tapi tetap berada di jalan yang benar atau pengin cepat-cepat sampai tujuan hidup namun akhirnya malah macet karena sopirnya ulan-ugalan bahkan fatal tidak sampai tujuan seperti bis “Pahala Kencana” tadi?
Begitu pula dengan ibadah. Mana yang kita pilih… jumlah atau frekuensi ibadah yang banyak namun malah justeru yang timbul kebosanan dan bahkan akhirnya pengingkaran dari tujuan ibadah, ataukah sedikit pelan namun ikhlas dan sesuai dengan tujuan ibadah yaitu bentuk simbolik pengabdian tulus dan total pada-Nya?
Benarlah Rabiah Adawiyah. Katanya; dia beribadah bukan berharap surga dan bukan pula takut neraka. Ya, kita beribadah bukan mengharapkan itu. Bahkan jika surga dan neraka tak pernah ada, pasti kita tetap sujud pada-Nya.
Satu hal yang bisa digarisbawahi, bahwa dalam melakoni garis, tata cara dan jalan kehendak Tuhan (agama/kepercayaan/yang lain) terletak pada tujuan murni yang hendak dicapai. Dalam setiap tindak tanduk keseharian kita, semua berjalan dalam rangka pengabdian ibadah. Dan semuanya diikat kembali dengan tali keikhlasan.
Perintah tentang ibadah dalam kitab suci jelas terangkai dengan kata ikhlas. Dan sebagai motivasi, beribadah perlu dilanjutkan dengan berinovasi dalam amal. Beribadah seolah melihat Gusti Allah, sekiranya pun kita masih belum mampu merasakan bahwa Dia melihat kita, boleh juga memantapkan keyakinan bahwa Dia akan melihat apa yang kita kerjakan.
Di sinilah peran ikhlas tersebut. Ikhlas bukan pasrah negatif, tapi ikhlas adalah tujuan tanpa batas kemakhlukan yang sarat kebendaan. Sebab objek yang dituju adalah Sang Maha Ikhlas. Ia yang transenden tak dapat terlihat tapi bisa dirasakan, berarti setiap langkah usaha yang dibuat, harus terus akan berjalan dengan dalih keberadaan-Nya. Selama masih ada kesempatan hidup, maka inovasi harus ada. Biarlah semua hanya Gusti Allah yang menilai usaha kita.
Berbuatlah tanpa embel-embel dibelakang. Tujuannya, bukan untuk dipuji, jadi kaya, terhormat, dapat kekuasaan, jabatan atau lainnya. Arahkan selalu tujuan hanya kepada Gusti Sang Maha Tunggal. Kita pasti tidak akan mengeluh, bosan, jenuh dan sebagainya. Justru, jika tujuan itu berhasil keridhaan-Nya sudah dijamin.
Mungkin ini hakikat ikhlas. Bukan ikhlas yang ateis. Bukan pula ikhlas yang absurd.
* MUNGKIN INI HAKIKAT IKHLAS

HAKIKAT CINTA

Tanpa memahami hakikat cinta, kita mungkin tidak bertanggung jawab dan hanya sekedar memperturutkan emosi tanpa kebijaksanaan. Cinta yang demikian akan jadi merugikan dan sia-sia
Namun membedah makna cinta juga tidak mudah. Sulit untuk dirumuskan dengan kalimat-kalimat sederhana, sebab urusan cinta menembus berbagai lapisan terdalam kenyataan. Sifatnya yang meta-fisik, mendasari keberadaan segala sesuatu. Mendasari juga “adanya” sesuatu yang tampak ini.
Setiap orang mempunyai interpretasi sendiri tentang cinta. Memang, arti definitifnya bisa kita ambil dari kamus. Misalnya Kamus Besar Bahasa lndonesia mendefinisikan cinta sebagai rasa sangat suka (kepada) atau rasa sayang (kepada) atau rasa sangat tertarik hatinya. Tapi faktanya berkata lain. Mengapa kadang karena cinta orang bisa menyakiti, membenci memperkosa bahkan membunuh?
Cinta memang abstrak dan aneh. Tidak ada tolok ukurnya secara pasti bagaimana mengukur dalamnya perasaan cinta. Siapa yang dapat mengukur? Dapatkah kita mengatakan cinta seorang pengusaha yang memberi permata kepada kekasihnya lebih dalam daripada cinta seorang gembel yang memberi sepotong kue kepada kekasihnya? Cinta juga sulit diterima akal. Pantas Blaise Pascal mengatakan, ”hati mempunyai alasan-alasan yang sama sekali tidak diketahui oleh akal, yang menyebabkan orang mengambil keputusan yang irrasional”.
Cinta adalah “the never ending story”, cerita yang tidak pernah selesai…. Orang tidak pernah berhenti mencintai dan dicintai. Selalu ada yang baru tentang cinta. Tidak terhitung banyaknya kreativitas yang lahir karena cinta. Sumber inspirasi yang tidak pernah habis…. cinta adalah melodi sepanjang zaman.
Pelet cinta memang sangat dahsyat. Dengan cinta orang rela memberi dan berkorban apa saja, tapi dengan kekuatan cinta pula orang dapat membenci bahkan membunuh. Kekuatan cinta juga dapat mengelabui. Coba lihat kisah cinta Romeo and Juliet. Dunia menjadikannya legenda kisah cinta sejati. Orang hampir tidak percaya bahwa kisah itu sebenarnya tidak pernah terjadi. ltu hanya imajinasi, buah pena sastrawan Inggris William Shakespeare. Tapi hal ini juga sekaligus membuktikan betapa universalnya pemahaman tentang cinta.
Karena cinta pula sesuatu itu ada. Taj Mahal, sebuah bangunan di kota Agta, lndia, sangat populer didunia karena kemegahan dan keindahannya. Seluruh bangunan terbuat dan marmer berkualitas tinggi, bahkan bagian-bagian dari dindingnya bertahtakan berlian. Bangunan ini merupakan bukti cinta dari seorang Kaisar Moghul bernama Shah Jehan kepada istrinya Mumtaz. la ingin mempersembahkan monumen cinta abadi bagi sang istri yang lebih dulu meninggalkannya. Betapa dalam cintanya kepada sang istri yang setia mendampingi sampai akhir hayatnya.
Hitler sang pembantai bengis ribuan orang Yahudi ini siapa menyangka kalau ia tidak sanggup menerima kenyataan meninggalnya wanita yang dicintainya. Dua menit setelah kematian istrinya yang bunuh diri, Hitler menyusul dengan cara yang sama. Mayat mereka dikremasikan bersama sesuai dengan pesan Hitler.
Kisah raja Edward VIII dari Inggris yang rela kehilangan tahta demi untuk menikah dengan wanita yang dicintainya juga menjadi legenda dunia. Edward mengumumkan pengunduran dirinya sebagai raja untuk menikah dengan Wallis Simpson seorang janda yang telah dua kali menikah. Hat ini tentu saja tidak mendapat restu dari kerajaan.Tapi begitulah cinta, Edward bahkan berkata, ”Aku tidak mungkin memikul tanggungjawab yang begitu besar sebagai raja, tanpa dukungan wanita yang aku cintai”.
Perkawinan Pangeran Charles dengan Lady Di berakhir dengan tragis. Itu karena Charles ternyata tidak dapat melupakan teman kencan lamanya Camila Parker, seorang wanita yang sudah mempunyai suami. Perselingkuhan ini membuat Lady Di kecewa dan tertekan. Lady Di yang sangat dicintai rakyat Inggris karena keanggunan dan kepribadiannya, ternyata harus menderita menghadapi hubungan gelap suaminya dengan wanita tua yang tidak berparas cantik bahkan disebut nenek sihir oleh rakyat Inggris.
Abraham H Maslow tokoh psikologi humanistik memunculkan teori Teori Hirarki Kebutuhan. Teorinya mengatakan salah satu kebutuhan manusia dari lima kebutuhan dasar adalah kebutuhan untuk dimiliki dan dicintai (belongingness and love needs), ingin merasakan kehangatan dan kemesraan.
Kita sepakat bahwa cinta adalah kebutuhan manusia. Bila manusia hidup tanpa cinta, ada sesuatu yang tidak terpenuhi dalam kebutuhannya. Bahkan penelitian mengatakan, orang yang kebutuhan cintanya terpenuhi berumur lebih panjang dari orang yang tidak punya cinta.
Sigmund Freud tokoh psikoanalisa, dalam Teori Kepribadiannya mengatakan bahwa jiwa terdiri dari 3 sistem yaitu: id, ego dan super ego. ld terletak dalam alam bawah sadar yaitu dorongan-dorongan primitif atau instink dasar. Instink dasar manusia ada dua yaitu, dorongan untuk hidup dan dorongan untuk mati. Dorongan hidup adalah dorongan seksual/libido dan dorongan mati/dorongan agresi. Cinta adalah dorongan hidup. Dengan dorongan cinta orang ingin mempunyai keturunan untuk melanjutkan kehidupan.
Carl Gustaf Jung tokoh NeoPsikoanalisa agak berbeda dengan Freud dalam menerangkan konsep kepribadian. la juga menggunakan konsep libido seperti Freud namun tidak melihat libido sebagai dorongan seksual, tetapi libido adalah dorongan energi. Dorongan energi mendorong berbagai proses mental seperti, berpikir, merasa, berhasrat dan sebagainya.
Bila kita melihat cinta Shah Jehan kepada istrinya, tentu bukan dorongan seksual lagi yang mendorongnya untuk membangun Taj Mahal, tetapi dorongan energi sesuai dengan prinsip pelepasan energi. Tetapi mengapa Shah Jehan membuktikan cintanya setelah istrinya tiada? Arthur Schopenhauer mengatakan bahwa, “kita baru merasa betapa terkasih seorang bila ia telah hilang dari hidup kita”.
Alfred Alder juga seorang tokoh Neo Psikoanalisa yang tidak sependapat dengan Freud. la menulis kertas kerja berjudul “Organ Inferiority”. Menurut Alferd setiap manusia mempunyai kelemahan organis. lni mendorong manusia untuk mengadakan kompensasi. la mengatakan bahwa “Organ Inferiority” pada masing-masing orang tidak sama, melainkan khas bagi orang itu sendiri. Karena itu cara mengkompensasinya juga tidak sama tergantung dari tujuan yang hendak dicapai. ”Organ Inferiority” ini yang menyebabkan adanya perasaan rendah diri pada manusia (inferiority feeling).
Bila kita melihat pada kisah Raja Edward Vlll,maka perasaan rendah diri ini yang ada pada dirinya. Sebab, walaupun ia seorang raja, tetapi sebenarnya ia adalah seorang yang kolokan, cengeng dan tidak bisa mengambil keputusan sendiri .Tidak heran bila sampai usia 41 tahun dia tidak bisa memilih calon istri. Tidak heran pula kalau kemudian ia memilih Wallis Simpson, wanita yang telah dua kali menikah asal Amerika Serikat. Baginya Simpson adalah wanita kuat yang dapat menopang dirinya. Maka tahta kerajaanpun rela diserahkan demi cinta.
Kompensasi juga salah satu dari sembilan mekanisme pertahanan diri yang dikemukakan Freud dalam Teori Kepribadian. Banyak cinta yang lahir karena kompensasi. Manusia mencari pasangan untuk saling melengkapi. Seperti pendapat Arthur Schopenhauer bahwa setiap orang paling mencintai unsur-unsur yang ia sendiri tidak akan milikinya.
CINTA DIMENSI SPIRITUAL
Di atas kita sudah membahas sedikit tentang hakikat cinta dalam konteks hubungan cinta antar manusia yang berseluk beluk, bikin pusing dan stress. Sekarang mari kita terbang menuju langit hakikat yang lebih tinggi lagi, yaitu hakikat cinta Ilahi di mana kita akan menemukan kedamaian dalam hening “NING” yang abadi. Pernahkah kita merasakan bahwa kita sekarang ini ada dan bereksistensi karena cinta kasih Tuhan kepada kita? Saking cintanya Tuhan kepada kita, harusnya kita juga membalas cinta-Nya. Bagaimana mencintai-Nya?
Melalui syair-syairnya, para mistikus membahas tentang cinta. Antara lain:
• Cinta adalah senantiasa condong kepada sang kekasih dengan hati bimbang. Cinta berarti mengutamakan sang kekasih di atas semua yang dikasihi. Cinta adalah kesesuaian diri dengan Sang Kekasih di alam nyata maupun gaib.
• Cinta adalah peleburan sifat-sifat si pecinta dan peneguhan Sang Kekasih dengan Dzat-Nya. Cinta adalah kesesuaian hati dengan kehendak Tuhan. Cinta berarti ketaatan. Cinta berarti penyerahan diri secara total kepada-Nya sehingga kau tidak memiliki apa-apa lagi. Cinta berarti melenyapkan segala sesuatu di hati selain kehadiran Sang Kekasih. Cinta adalah mengabaikan hasrat tanpa harap. Cinta adalah kerinduan untuk mengada bersama sang kekasih.
• Cinta adalah kecenderungan kepada segala sesuatu dengan sepenuhnya kemudian engkau mengutamakan yang kau cintai dibanding apapun juga termasuk dirimu, jiwamu, harta bendamu kemudian berada di dalam keserasian dengan-Nya baik lahir maupun batin. Kemudiaan engkau mengakui kekuranganmu dalam mencintai-Nya. Engkau juga tidak berkeluh kesah kepada apapun juga selain kepada kekasihmu.
• Cinta tidak bisa dikatakan cinta bila dua pihak tidak bisa mengatakan kepada masing-masing dengan ungkapan WAHAI DIRIKU. Ketika seseorang mengaku cinta, maka pengakuannya harus dibuktikan. Tiada cinta melainkan harus melekat di dalam hati terdalam dan tulang penegak hidup. Bila tidak ada kekasih hati, engkau akan layu tanpa sisa dan akhirnya engkau mati dalam hasrat cinta. Bibirmu tidak mampu berkata apa-apa selain diam kelu dengan mata menangis dalam penuhnya hati untuk bermunajat.
• Semua cinta pasti ada tujuannya. Cinta yang tanpa tujuan bukan cinta namanya. Tujuan cinta sejati adalah peleburan. Bila tujuan itu hilang, maka cinta pun akan sirna.
Cinta yang berdimensi spiritual yang biasa diungkap oleh kaum mistikus dalam bentuk puisi dan syair terlalu panjang untuk disingkap tabirnya. Kita akan kehilangan kedalaman cinta bila mengungkap hakikat cinta Ilahi. Begitu panjang dan jauh wilayah-wilayah cinta Tuhan kepada kita dan cinta kita kepada Tuhan. Karena cinta adalah kerinduan akan pertemuan, maka “Barangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu yang dijanjikan itu akan datang. Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”
Ada sebuah doa yang sangat dahsyat. Bila kita sampaikan dengan hati yang benar-benar bersih, bening dan tulus maka kita akan mendapatkan secara total kasih sayang-Nya:
“Ya Allah, dengan ilmu-Mu yang gaib dan dengan kekuasaan-Mu atas semua makhluk, hidupkanlah aku jika Engkau tahu bahwa hidup itu membawa kebaikan untukku, dan matikan aku jika Engkau tahu bahwa mati itu membawa kebaikan untukku. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu agar aku takut kepada-Mu dalam semua perkara, baik yang nyata maupun yang gaib. Aku memohon kepada-Mu ungkapan yang benar ketika aku senang maupun ketika aku marah. Aku memohon kepadamu kesederhanaan dalam kekayaan maupun kemiskinan. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kesenangan yang abadi dan kesejukan jiwa yang tak terputus. Aku memohon kepada-Mu keridhaan dengan apa yang telah ditentukan. Dan aku memohon kepada-Mu kehidupan yang sejuk sesudah mati. Aku memohon agar bisa melihat wajah-Mu yang Mulia, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu tanpa bahaya yang mengancam atau menjadi korban fitnah yang menyesatkan. Ya, Allah, hiasilah kami dengan keindahan iman. Ya Allah, jadikanlah kami sebagai pemberi petunjuk maupun penerima petunjuk”
Demikian sedikit uraian tentang cinta. Awas sekali lagi, jangan ceburkan diri dalam cinta palsu. Cintailah yang sungguh-sungguh Pecinta. Cintailah DIA yang sejati dan abadi, maka kelopak cintamu akan indah bermekaran, yaitu cinta yang bersemayam di bunga teratai kedamaian samadhi.
* HAKIKAT CINTA

Mencintai Tuhan sebagai Sang Kekasih

Marilah kita bersama-sama merenungkan sebuah hal yang sangat sederhana ini. Yakni saat kita mencintai seseorang, katakanlah si X. Kenapa kita mencintai si X? Banyak sebabnya, dan yang jelas kita biasanya hanya ingat urutan proses-proses kita mencintai seseorang.
Bermula dari kenalan, lalu berdialog/berdiskusi/berbincang bincang dan selanjutnya timbul dari hati perasaan mencintai/memiliki/menjaga dan seterusnya. Ada perasaan hilang saat dia tidak ada disamping kita. Dan kita selalu ingin ketemu untuk sebuah perjumpaan. Kita juga merasa termotivasi, bergairah dan kuat untuk hidup.
Kehadiran oleh karenanya sangat penting bagi kita. Tanpa kita tahu kenapa bila dia ada disamping kita, kita merasa tenteram dan damai. Hmmm…. Cinta memang indah dan menyenangkan. Itu pula sebab kenapa setiap orang membutuhkan cinta. Mencintai dan juga dicintai adalah kebutuhan primer manusia. Siapa bilang manusia hanya butuh sandang, pangan dan papan untuk hidup? Mari kita renungkan…..
Kebutuhan untuk dihargai sebagai manusia biasa, kebutuhan akan kehangatan hubungan antar manusia, kebutuhan untuk berkomunikasi dengan sesama, kebutuhan untuk bekerja, kebutuhan untuk menjadi diri sendiri, kebutuhan untuk merdeka dan bebas dari ancaman, kebutuhan untuk mencintai… adalah kebutuhan primer juga. Sebab tanpa itu semua, kita jelas tidak bisa hidup. Paling banter bisa hidup secara fisik dalam jangka waktu yang tidak lama.
Ya, manusia butuh untuk mencintai dan dicintai oleh manusia dan tentu saja oleh Sang Pencipta yaitu Tuhan. Kenapa butuh mencintai dan dicintai Tuhan? Sebab kita ini ciptaan-Nya yang butuh petunjuk untuk hidup yang baik dan benar. Apakah ada manusia yang tidak butuh petunjuk? Saya kira tidak ada karena sudah kodrat sejak awal manusia itu memiliki hasrat untuk mencari siapa sejatinya Si Pencipta Manusia yang tidak lain adalah Tuhan.
Sangat bijaksana pada akhirnya kita beranggapan bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya Kekasih. Cinta Tuhan kepada kita tidak pernah lekang oleh panas dan tidak pernak lapuk oleh hujan. Cinta Tuhan kepada kita bebas tendensi apapun kecuali ingin agar manusia menetapi janjinya. Janji manusia kepada Tuhan kepada manusia sangat jelas: yaitu untuk beribadah, melakoni jalan-Nya dan menuruti semua perintah serta petunjuk-Nya.
Bagaimana cara kita mencintai Tuhan? Sangat mudah dan tidak perlu berbelit-belit. Prosesnya kira-kira seperti kita mencintai manusia: Kenalan, dialog intens, bertemu, dan bercinta. Praktis dan hasilnya? Mencintai Sumber dari segala sumber cinta adalah sebuah keputusan yang akan membuat hidup kita berubah total 180 derajat.
Semoga kita semua selalu diberkahi Tuhan dengan petunjuk untuk kembali ke jalan yang terang. Terima kasih.
* Mencintai Tuhan sebagai Sang Kekasih

Sabtu, 18 Desember 2010

Larangan Keluar Rumah Tanpa Adanya Kebutuhan

Amr bin Abdul Mun'im

Imam Ibnu Jauzi Rahimahullahu mengatakan. [Ahkamun Nisa' hal. 32]
"Seorang wanita harus senantiasa berusaha untuk tidak keluar rumah meskipun ada kesempatan. Apabila keadaan mendesaknya keluar, maka dia harus meminta izin kepada suaminya, dan harus memilih jalan sepi, jauh dari keramaian dan pasar. Selain itu, dia harus berjalan dengan langkah yang tidak terdengar dan berjalan di tepi jalan dan bukan di tengahnya".
Dalam hal ini penulis katakan, hal itu didasarkan pada adanya seruan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mengharuskan kaum wanita untuk tetap tinggal di rumah dan tidak keluar kecuali untuk keperluan.
Allah Azza wa Jalla telah berfirman.
    "Artinya : Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian (1) dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu (2) ..." [Al-Ahzab : 33]
  1. Maksudnya adalah isteri-isteri Rasulullah agar tetap di rumah, dan keluar apabila ada keperluan yang dibenarkan oleh syarat. Perintah ini juga ditujukan kepada seluruh wanita Muslimah.
  2. Yang dimaksud dengan "Jahiliyah dahulu" adalah Jahiliyah kekafiran yang terdapat sebelum zaman Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan yang dimaksud dengan "Jahiliyah sekarang" adalah Jahiliyah kemaksiatan yang terjadi sesudah datangnya Islam.
Perintah ini meskipun hanya ditujukan kepada isteri-isteri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, namun demikian mencakup seluruh wanita Muslimah.
Dari Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu anha, dia menceritakan.
    "Artinya : Seandainya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengetahui apa yang terjadi pada kaum wanita, niscaya beliau akan melarang mereka berangkat ke masjid sebagaimana larangan yang berlaku bagi wanita Bani Israel". [Hadits Riwayat Muttafaqun 'alaih]
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, dia menceritakan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
    "Artinya : Janganlah kalian melarang isteri-isteri kalian pergi ke masjid, tetapi berdiam di rumah adalah lebih baik bagi mereka". [Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud (567) melalui Habib bin Abi Tsabit, dari Ibnu Umar].
Dari Aisyah Radhiyallahu anha, dia menceritakan.
    "Artinya : Saudah -setelah dikeluarkan perintah penguluran hijab- keluar untuk suatu keperluan, dia ini wanita berbadan besar, tidak asing bagi orang yang melihatnya. Maka Umar bin Khaththab melihatnya dan berkata. "Wahai Saudah, demi Allah, apa yang sembunyikan dari kami. Lihatlah bagaimana engkau sembunyikan dari kami. Lihatlah bagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, sedang beliau berada di rumahku melakukan makan malam dan ditanganya terdapat otot. Kemudian dia (Saudah) menemui beliau dan berkata. "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku pernah keluar untuk beberapa keperluan, lalu Umar berkata kepadaku : 'ini dan itu'. Aisyah melanjutkan. "Lalu Allah memberikan wahyu kepada beliau, dan diangkat darinya dan beliau berkata. "Sesungguhnya telah diizinkan kepada kalian keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan". [Hadits Riwayat Muttafaqun 'alaih]
Oleh karena itu, wahai wanita Muslimah, kalian semua harus mengindahkan dan mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya untuk tetap tinggal di rumah, dan tidak keluar kecuali untuk keperluan yang telah ditetapkan oleh syari'at, serta senantiasa memperhatikan sopan santun yang diajarkan syari'at dalam bepergian.
* Larangan Keluar Rumah Tanpa Adanya Kebutuhan

Keringanan Untuk Pergi Menuntut Ilmu Yang Diharuskan Syari'at

Amr bin Abdul Mun'im

Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya telah memerintahkan kita untuk menuntut ilmu yang telah ditetapkan syari'at yang kita butuhkan supaya kita dapat beribadah kepada-Nya dengan benar sehingga benar-benar diridhai-Nya.
Dimana Dia berfirman.
    "Artinya : Katakanlah, Adakah kesamaan antara orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu". [Al-Zumar : 9]
Dalam surah yang lain, Allah juga berfirman.
    "Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kalian, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan". [Al-Mujadilah : 11]
Sedangkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda.
    "Artinya : Barangsiapa yang menghendaki kebaikan dari Allah, maka Dia memberikan pemahaman dalam agama". [Diriwayatkan oleh Muttafaqun 'alaih, dari Mua'wiyah Radhiyallahu 'anhu]
"Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah".
Ilmu inilah yang diminta oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam do'anya.
    "Artinya : Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat". [Hadits ini isnadnya Laa Ba'sa Bihi. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (3843), juga Al-Ajiri dalam pembahasan "Akhlaqu Al-Ulama" (108) melalui Usamah bin Yazid, dari Muhammad bin Al-Munkadirm dari Jabir. Mengenai masalah ini saya telah menjelaskan secara rinci dalam buku saya yang berjudul Akhlaqun Mahmudatun wa Akhlaqun Mazmuataun Fii Thalabi Al'Ilmi (Akhlak Terpuji dan Akhlak Tercela Dalam Menuntut Ilmu) hal. 97]
Sama seperti orang laki-laki, wanita juga diberi tugas untuk menuntut ilmu, yaitu belajar hal-hal yang berkenaan dengan agama, misalnya Thaharah, Shalat, Zakat Haji dan lain-lainnya yang dibutuhkannya dalam memahami masalah agama.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengetahui bahwa banyak dari para suami yang tidak mengetahui dan memahami agama.
Beberapa dalil yang menunjukkan hal itu banyak sekali dalam hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha sendiri pernah berkata : "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, mereka tidak malu-malu untuk bertanya mempelajari dan memahami agamanya". (Lihat Kitab Shahih Bukhari, kitabul 'ilmi. Dan juga kitab Shahih Muslim kitabul haid). Sulaim bin Milhan, Ibunda Anas bin Malik pernah datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu pada kebenaran, maka aku pun tidak malu untuk bertanya : "Apakah wanita wajib mandi bila bermimpi ?". Maka Rasulullah menjawab : "Ya, apabila dia melihat adanya air mani !" Maka Ummu Sulaim pun menutup wajahnya karena malu. Kemudian bertanya lagi : "Wahai Rasulullah, Apakah wanita juga mimpi seperti itu ?" Beliau menjawab : "tentu, kalau tidak, mengapa ada anak yang mirip dengan ibunya !" [Lihat kitab Shahih Bukhari, kitabul 'ilmi. Dan juga kitab Shahih Muslim, kitabul haid]
Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Ummu Sulaim pernah datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang sedang didampingi oleh Aisyah Radhiyallahu 'anha. Ketika Ummu Sulaim bertanya kepada Nabi, Aisyah berkata : "Wahai Ummu Sulaim, Mengapa engkau beberkan rahasia wanita ?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pun berkata kepada Aisyah : "Biarkanlah, hendaklah engkau mandi wahai Ummu Sulaim apabila melihat air mani itu".
Demikian itulah Ummu Sulaim pergi menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menanyakan hal-hal yang berkenaan dengan agama, yang tidak menemukan jawabannya pada orang lain.
Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak segan-segan menjawabnya serta tidak memarahi kedatangan tersebut.
Hal yang sama juga diceritakan oleh Aisyah Radhiyallahu 'anha : Fatimah bin Hubaisy pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Wahai Rasullulah, sesungguhnya aku dalam keadaan istihadhah dan tidak suci. Apakah aku harus meninggalkan shalat selamanya ?".
Rasulullah menjawab. "Sesungguhnya yang demikian itu adalah darah yang keluar dari pembuluh darah, tinggalkan shalat selama hari-hari engkau menjalani haid, setelah itu bersihkanlah dirimu dan kerjakan shalat". [Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Imam Muslim (1/262), Imam Tirmidzi (125), Imam Nasa'i (1/181), Ibnu Majah (621) melalui Waki' dari Hisyamn bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah Radhiyallahu 'anha]
Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu 'anha bahwa Asma' binti Yazid bin al Sakan al-Anshariyyah (1), dia pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai mandi dari haid. Maka Rasulullah menjawab: "Hendaklah salah seorang di antara kalian menyediakan air yang bercampur dengan daun sidra, lalu bersucilah dengan sebaik-baiknya. Setelah itu tuangkanlah air dan gunakanlah secarik kain atau kapas yang telah diberi wangi-wangian, untuk selanjutnya bersihkanlah darah haid itu dengannya". Maka Asma binti Yazid pun bertanya: "Bagaimana cara bersuci denganya ?" Rasulullah pun menjawab: "Subhanallah, bersucilah dengannya !". Lalu Aisyah Radhiyallahu 'anha bertutur dengan sangat merahasiakannya: "Usaplah dengannya bekas-bekas darah haid !".
Selain itu, Asma binti Yazid juga bertanya mengenai mandi janabat, maka beliau pun menjawab : "Ambil air dan bersucilah dengannya secara baik. Kemudian guyurkanlah air di atas kepalamu dan gosok-gosoklah kulit dan rambutmu hingga rata. Setelah itu tuangkanlah air ke seluruh tubuhmu". [Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam kitabul haid persis dengan lafadz tersebut di atas]
Dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'anhu, menceritakan :
Ada beberapa wanita yang bertutur kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Kami dikalahkan oleh kaum laki-laki untuk belajar kepadamu, karenanya luangkanlah waktumu barang satu hari bagi kami. Beliau pun menjanjikan suatu hari untuk mengadakan pertemuan dengan mereka, lalu beliau memberikan nasehat dan mengajari mereka". [Hadits Riwayat Muttafaqun 'alaihi]
Seorang wanita mempunyai hak pergi belajar hal-hal yang berkenan dengan agama yang dibutuhkannya guna memperbaiki ibadah yang dijalankannya.
Pada sisi lain, seorang wanita tidak diperbolehkan pergi belajar ilmu-ilmu yang sifatnya fardhu kifayah, apabila suaminya memerintahkan untuk tinggal di rumah saja, karena ketaatan kepada suami merupakan suatu hal yang wajib sedangkan belajar ilmu-ilmu yang sifatnya fardhu kifayah adalah sunnah jika tidak dikhawatirkan timbulnya fitnah, dan tidak diragukan lagi bahwa suatu hal yang wajib harus didahulukan dari yang sunnah.
Tetapi apakah ada syarat-syarat yang harus dipegang teguh seorang wanita pada saat keluar rumah untuk tujuan tersebut ?.
Jawabannya, "Ya". Ada beberapa syarat dan tata cara yang harus diperhatikan dan dijalankan seorang wanita ketika pergi menuntut ilmu. Mengenai syarat-syarat dan tata cara tersebut telah kami terangkan secara rinci dalam buku kami yang berjudul Al-Adab Al-Syra'iyyah Li-Anisa Fii Thalabu Al-'Ilm. Oleh karena itu, kami anjurkan supaya wanita muslimah membaca buku tersebut karena terdapat keterangan dan penjelasan mengenai adab dan tata cara menuntut ilmu yang harus diketahuinya.
* Keringanan Untuk Pergi Menuntut Ilmu Yang Diharuskan Syari'at

Keringanan Memakai Wangi-Wangian Yang Tidak Tercium Baunya Oleh Selain Muhrim

Amr bin Abdul Mun'im

Wanita muslimah hendaknya mengetahui bahwa minyak wangi (parfum) merupakan salah satu perhiasan baik bagi laki-laki maupun bagi wanita, yang secara mutlak diperbolehkan bagi orang laki-laki dan pada waktu-waktu tertentu disunnahkan.
Sedangkan bagi wanita diberikan keringanan untuk memakainya. Hal itu didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
    "Artinya : Apabila salah seorang di antara kalian menyaksikan waktu Isya' -dalam sebuah riwayat disebutkan : masjid- maka hendaklah dia memakai wangi-wangian pada malam itu". [Hadits Riwayat Muslim]
Juga sabdanya.
    "Artinya : Setiap wanita mana saja yang terkena bau wangi, maka hendaklah dia tidak mengerjakan shalat Isya' bersama kami". [Hadits Riwayat Muslim] "Artinya : Setiap wanita mana saja yang memakai wangi-wangian lalu dia berjalan melewati suatu kaum supaya mereka mencium bau wanginya itu, berarti dia telah berzina". [Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (IV/414) Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (4173). Imam Tirmidzi (2786). Imam Nasa'i (VIII/153) melalui Ghanim bin Qais dari Abu Musa Al-Asy'ari]
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "maka hendaklah dia tidak memakai wangi-wangian pada malam itu" secara jelas membolehkan wanita memakai wangi-wangian di dalam rumah mereka selama baunya tidak tercium oleh laki-laki yang bukan muhrim.
Dari Abu Sa'id Al-Khudry Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda.
    "Artinya : Mandi pada hari jum'at wajib bagi setiap orang yang bermimpi, juga bersiwak, dan memakai minyak wangi secukupnya".
Dari Zainab bin Abi Salamah Radhiyallahu 'anha, dia menceritakan tentang hadits tiga orang ini. Zainab binti Abi Salamah berkata.
Aku pernah mendatangi Ummu Habibah, isteri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, pada saat ayahnya, Abu Sufyan bin Harb meninggal dunia, lalu dia meminta diambilkan minyak wangi yang berwarna kuning, lalu seorang hamba sahaya wanita memakaikan dan mengusapkan ke jambangnya, kemudian berkata : "Demi Allah, sebenarnya aku tidak membutuhkan minyak wangi, tetapi aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda.
    "Artinya : Tidak diperbolehkan bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkabung lebih dari tiga hari, kecuali karena kematian suaminya, selama empat bulan sepuluh hari".
Selanjutnya Zainab berkata. "Kemudian aku masuk menemui Zainab binti Jahsy pada saat saudaranya meninggal. lalu dia mengambil minyak wangi dan memakainya, kemudian berkata : "Demi Allah, sebenarnya aku tidak membutuhkan minyak wangi, tetapi aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda.
    "Artinya : Tidak diperbolehkan bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkabung lebih dari tiga hari, kecuali karena kematian suaminya, selama empat bulan sepuluh hari".
Lebih lanjut Zainab menceritakan : Dan aku juga pernah mendengar Ummu Salamah Radhiyallahu 'anha berkata. "Ada seorang wanita yang datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam seraya bertutur. "Wahai Rasulullah, putriku telah ditinggal mati suaminya dan ketika dia sakit mata, apakah boleh aku mencelakinya ?. "Tidak", jawab Rasulullah. Ketika pertanyaan itu diulang sampai dua tiga kali tetap dijawab tidak, oleh beliau. Kemudian beliau bersabda. "Sesungguhnya hanya empat bulan sepuluh hari padahal dulu di masa jahiliyah membuang kotoran unta (yakni membuang sial) hanya sesudah satu tahun".
Hummaid berkata, "Maka aku bertanya kepada Zainab bagaimana membuang kotoran unta sesudah satu tahun itu ?. Zainab menjawab. "Seorang wanita apabila ditinggal mati suaminya lalu ke sepen (gubug kecil di belakang rumah) dan memakai baju yang paling buruk dan tidak boleh mengenakan wangi-wangian selama satu tahun, dan sesudah satu tahun dibawakan kepadanya keledai atau kambing atau burung. Kemudian dia bersihkan badannya dari semua kotoran dengan menggunakan binatang tersebut dan jarang sekali binatang yang digunakan untuk membersihkan badannya itu dapat hidup, yakni segera mati. Selanjutnya dia keluar dari sepen tersebut lalu diberikan kotoran unta untuk dilemparkannya, lalu kembali seperti biasa mengenakan wangi-wangian dan lain sebagainya".
Malik ditanya : "Bagaimana cara membersihkan hal itu ?. Dia menjawab. "Mengusap-usapkan badannya ke binatang itu". [Hadits Riwayat Muttafaqun 'alaihi].
Semua hadits di atas secara jelas membolehkan wanita memakai wangi-wangian, tidak mutlak. Karena seperti yang telah kami uraikan sebelumnya bahwa minyak wangi merupakan salah satu perhiasan baik bagi laki-laki maupun perempuan. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan kaum wanita untuk tidak memperlihatkan perhiasan mereka kepada laki-laki yang bukan muhrimnya, dimana Dia berfirman.
    "Artinya : Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa nampak darinya. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami, ayah mereka, ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan jangan mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung". [An-Nuur : 31]
Tidak diragukan lagi bahwa minyak wangi merupakan salah satu macam dari perhiasan yang tidak diperbolehkan untuk diperlihatkan kepada orang-orang yang bukan muhrimnya, sebagaimana telah ada larangan bagi wanita pergi ke masjid dengan memakai minyak wangi. Dan ancaman bagi wanita yang keluar rumah dengan memakai minyak wangi supaya orang laki-laki mencium baunya sungguh sangat berat.
Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Musa Al-Asy'ari Radhiyallahu 'anhu, dia menceritakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda.
    "Artinya : Setiap wanita mana saja yang memakai wangi-wangian lalu dia berjalan melewati suatu kaum supaya mereka mencium bau wanginya itu, berarti dia telah berzina". [Hadits ini Shahih. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (IV/414). Juga diriwayatkan Abu Daud (4173). Imam Tirmidzi (2786). Imam Nasa'i (VIII/153) melalui Ghanim bin Qais, dari Abu Musa Al-Asy'ari]
Oleh karena itu wanita Muslimah diberikan untuk memakai wangi-wangian di dalam rumah dengan syarat tidak tercium oleh orang-orang yang bukan muhrimnya, karena wangi-wangian itu dapat membangkitkan nafsu birahi dalam diri mereka, selain karena wangi-wangi itu juga termasuk perhiasan yang apabila diperlihatkan akan mamancingkan timbulnya perzinaan.
Hal ini terlihat pada apa yang dikandung dalam hadits berikut ini.
    "Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, sesungguhnya dia tidak pernah menolak minyak wangi. Dan dia merasa yakin bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga tidak menolak minyak wangi". [Hadits Riwayat Bukhari]
Apabila seorang wanita hendak pergi ke masjid atau untuk beberapa keperluan, maka hendaklah dia tidak memakai minyak wangi. Dan apabila telah terlanjur mamakainya di rumah sedang dia harus pergi ke suatu tempat maka dia harus membersihkan diri sehingga bau minyak wangi itu tidak tercium". [Telah disebutkan dalam sebuah hadits dha'if dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dimana beliau bersabda: "Apabila seorang wanita akan pergi ke masjid maka hendaklah dia mandi membersihkan diri dari minyak wangi seperti dia mandi janabah". Diriwayatkan oleh Imam Nasa'i (VIII/153) melalui Shafwan bin Salim, dari seorang yang dapat dipercaya, dari Abu Hurairah. Mengenai hal ini penulis . 'Perawi hadist ini dari Abu Hurairah mubham (tidak jelas), meskipun didukung oleh Shaewan bin Salim. Dan juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam bukunya Al-Musnad (11/297, 444,461) melalui Ashim bin Ubaidillah, dari Ubaid Maula, dari Abu Hurairah. Ashim bin Ubaidillah adalah orang yang dha'if. Dan seperti yang kami sebutkan, dia tidak dapat dijadikan pegangan dalam hadits ini. Seperti yang diketahui, kebanyakan minyak wangi akan hilang dengan siraman air, dan itu tidak lain kecuali dengan mandi].
* Keringanan Memakai Wangi-Wangian Yang Tidak Tercium Baunya Oleh Selain Muhrim

Larangan Menyerupai Laki-Laki

Amr bin Abdul Mun'im

Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'anhu, dia menceritakan.
    "Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat orang laki-laki yang bersikap seperti wanita dan wanita seperti laki-laki".
Sedangkan dalam riwayat yang lain disebutkan.
    "Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat orang laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki". (Hadits Riwayat Bukhari)
Hadist di atas menunjukkan kepada kita larangan bagi laki-laki untuk menyerupai wanita, baik itu dengan cara melembutkan suara maupun dengan menirukan gerakan, pakaian, perhiasan, dan lain sebagainya dari karakter kewanitaan. Dan menunjukkan larangan bagi wanita untuk menyerupai laki-laki, baik itu dengan cara mengkasarkan suaranya maupun dengan cara meniru gerakan dan pakaian mereka.
Musuh-musuh Islam telah berusaha menggunakan cara yang sangat buruk untuk merusak Islam dan menghancurkan akidah yang bersemayam dalam diri para pemeluknya dengan cara menyebarluaskan pakaian-pakaian wanita yang menyerupai pakaian laki-laki, misalnya celana, kemeja, jaket dan bahkan sepatu. Padahal mereka semua mengetahui bahwa Islam melarang wanita menyerupai laki-laki. Penyerupaan wanita seperti orang laki-laki merupakan awal dari cara perusakan agama Islam dalam diri wanita Muslimah.
Mengapa wanita dilarang melakukan itu ??
Karena mereka mempunyai kedudukan sebagai isteri, saudara dan sekaligus ibu rumah tangga.
Tidak diragukan lagi, sebagai seorang istri, wanita akan memberikan pengaruh terhadap suaminya, saudara dan putera-puterinya. Apabila wanita itu baik, maka akan memberikan pengaruh positif, dan apabila rusak maka akan memberikan pengaruh negatif. Wanita merupakan tiang umat, apabila dia baik maka seluruh umat akan baik dan sebaliknya apabila rusak maka akan rusak pula seluruh umat.
Sedangkan alasan penyerupaan itu, karena penyerupaan wanita seperti orang laki-laki merupakan tindakan yang keluar dari fitrahnya sebagai wanita yang telah diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla. Penyerupaan ini termasuk dosa besar, karena adanya laknat bagi pelakunya.
Yang paling selamat bagi setiap wanita Muslimah adalah memelihara fitrah yang telah diciptakan Allah Subhanahu wa Ta'ala baginya, tidak menyerupai laki-laki dalam segala hal, meski dalam hal memakai sandal sekalipun.
Dari Ibnu Abi Malikah, dia berkata : Dikatakan kepada Aisyah Radhiyallahu Anha, "Ada seorang wanita yang memakai sandal". Maka Aisyah berkata. "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat wanita yang menyerupai laki-laki". (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud (4099) melalui Ibnu Juraij, dari Abu Abi Malikah)
* Larangan Menyerupai Laki-Laki